Seputar Indonesia

Senin, 22 Januari 2018

Fashion Membawa Pesan Perubahan, Bagaimana Bisa?



Saat orang-orang menyoroti desainer Miuccia Prada tentang new wave mashup dari koleksi musim seminya, ada satu hal yang ingin disampaikannya.

"Aku ingin menggugah para perempuan militan dengan cara yang praktis, melalui pakaian," kata Prada.

Pemikiran dan perasaannya mengacu pada satu tujuan, yaitu untuk mengubah dunia. Terutama kaum perempuan karena banyak hal-hal di dunia yang menurutnya masih harus dihadapi.

Pernyataan Prada tersebut disampaikan jauh sebelum meledaknya tagar #MeToo pada Oktober 2017 tentang serangan dan pelecehan seksual. Juga jauh sebelum para perempuan Inggris disadarkan oleh berita bahwa staf perempuan BBC rata-rata dibayar 9 persen lebih rendah daripada staff laki-laki.

Termasuk fakta adanya peningkatan jarak yang lebar antara gaji perempuan dan laki-laki dalam enam tahun terakhir, sesuai data yang dirilis The Fawcett Society.

Dengan adanya fakta-fakta soal disparitas gender tersebut, bagaimana cara berpakaian seorang perempuan menjadi relevan?

Fashion tidak bisa dikesampingkan dalam hal ini, bahkan merupakan media yang terbuka untuk mengungkapkan makna yang tak terbatas dari mereka-mereka yang ingin menunjukkan pandangannya.

"Semakin sering kita dilihat, semakin sering kita didengar," begitu kutipan yang kerap digaungkan para perempuan yang tergabung dalam gerakan feminis The Pink Pussy Hat.

Sejak terpilihnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kemungkinan-kemungkinan subversif dalam segi komunikasi visual dalam fashion melepaskan keheranan, peningkatan dan tingkat kreativitas yang mandiri.

Mengingatkan pada momentum gerakan dan gelombang protes para anak muda pada 1968, dimana revolusi bergeser dari San Fransisco ke Paris dan London 50 tahun yang lalu.

Mereka berpakaian untuk mengubah dunia, dengan kaos polo ketat dengan kerah tinggi, celana flare, rok mini, serta duffle coat.

Gestur yang sama ditunjukkan saat ini, bersamaan dengan berkembangnya era media sosial. Beberapa contoh fashion pada era 1960an dan 1970an yang kembali hits, misalnya baret.

Salah satunya ditunjukkan tokoh feminis sekaligus desainer Maria Grazia Chiuri saat mengenakan baret berbahan kulit yang didesain oleh Stephen Jones pada Dior catwalk.

Jones beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa ada keseimbangan dan penekanan khusus pada desain pakaian tersebut.

"Ia (Chiuri) melihat ini tampak seperti pasukan perempuan yang kuat dan independen," kata Jones.

Di samping itu, sebetulnya banyak yang membuat desain simbol atau ide kreatif dengan menempatkan nilai kepada sebuah penampilan. Seperti desainer yang mencantumkan grafik serta slogan pada t-shirt para modelnya di atas catwalk.

Desainer Haider Ackermann, misalnya, pernah memamerkan t-shirt rancangannya yang bertuliskan "Be Your Own Hero" dan "Silent Soldier" atau Sacai dengan t-shirt bertuliskan slogan "Fashion is a Passion".

Bagaimana dengan desainer fashion dari Indonesia?

Desainer busana muslim, Vivi Zubedi menjadi salah satu desainer yang menyelipkan pesan mendalam dari balik karyanya. Vivi adalah satu dari lima desainer Indonesia yang berkesempatan memamerkan koleksinya pada gelaran New York Fashion Week 2017 lalu.

Lewat karyanya, Vivi menyindir kebijakan Trump yang melarang imigran dari beberapa negara Islam.

"Pak Presiden (Trump), aku cinta negara Anda dan juga orang-orangnya. Dan kami tidak akan melakukan apapun kepada orang-orang Anda. Kita semua sama, ini tentang kemanusiaan," kata Vivi dikutip dari The Guardian.

Pada intinya, kata-kata dengan arti yang kuat bisa membawa dampak secara global saat disampaikan melalui pakaian dan fashion. Sebuah strategi brilian yang digunakan oleh para aktivis muda.

Sekarang, bisa kah apa yang kita pakai membawa perubahan terhadap suatu hal menjadi lebih baik? Ya, kenapa tidak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar